Kawah Sileri dan Candradimuka Dieng
Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Gara-gara peristiwa tersebut,banyak orang yang meninggal dunia. Tercatat kurang lebih 141 orang tewas ditempat. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.

Sumur Jalatunda
Jalatunda adalah salah satu wisata dari dieng yang konon punya kaitan erat dengan asal mula terjadinya candi prambanan, ada banyak versi yang menceritakan tentangnya, saya akan mencoba menceritakan menurut versi yang saya ketahui,
Alkisah pada zaman dahulu kala di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur, dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Maya. Prabu Damar Maya memiliki putra bernama Raden Bandung Bandawasa, seorang ksatria yang gagah perkasa dan sakti. Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raja denawa (raksasa) pemakan manusia yang kejam bernama Prabu Baka. Dalam memerintah kerajaannya, Prabu Baka dibantu oleh seorang Patih bernama Patih Gupala yang juga adalah raksasa. Akan tetapi meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri yang sangat cantik jelita bernama Rara Jonggrang. Prabu Baka berhasrat memperluas kerajaannya dan merebut kerajaan Pengging, karena itu bersama Patih Gupala mereka melatih balatentara dan menarik pajak dari rakyat untuk membiayai perang. Setelah persiapan matang, Prabu Baka beserta balatentaranya menyerbu kerajaan Pengging. Pertempuran hebat meletus di kerajaan Pengging antara tentara kerajaan Baka dan tentara kerajaan Pengging. Banyak korban jatuh dari kedua belah pihak. Akibat pertempuran ini rakyat Pengging menderita kelaparan, kehilangan harta benda, banyak diantara mereka yang tewas. Demi mengalahkan para penyerang, Prabu Damar Moyo mengirimkan putranya, Pangeran Bandung Bondowoso untuk bertempur melawan Prabu Baka. Pertempuran antara keduanya begitu hebat, dan berkat kesaktiannya Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Ketika Patih Gupolo mendengar kabar kematian junjungannya, ia segera melarikan diri mundur kembali ke kerajaan Baka.

Pangeran Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo hingga kembali ke kerajaan Baka. Ketika Patih Gupolo tiba di Keraton Baka, ia segera melaporkan kabar kematian Prabu Baka kepada Putri Rara Jongrang. Mendengar kabar duka ini sang putri bersedih dan meratapi kematian ayahandanya. Setelah kerajaan Baka jatuh ke tangan balatentara Pengging, Pangeran Bandung Bondowoso menyerbu masuk ke dalam Keraton (istana) Baka. Ketika pertama kali melihat Putri Rara Jonggrang, seketika Bandung Bondowoso terpikat, terpesona kecantikan sang putri yang luar biasa. Saat itu juga Bandung Bondowoso jatuh cinta dan melamar Rara Jonggrang untuk menjadi istrinya. Akan tetapi sang putri menolak lamaran itu, tentu saja karena ia tidak mau menikahi pembunuh ayahandanya dan penjajah negaranya. Bandung Bondowoso terus membujuk dan memaksa agar sang putri bersedia dipersunting. Akhirnya Rara Jonggrang bersedia dinikahi oleh Bandung Bondowoso, tetapi sebelumnya ia mengajukan dua syarat yang mustahil untuk dikabulkan. Syarat pertama adalah ia meminta dibuatkan sumur yang dinamakan SUMUR JALATUNDA, syarat kedua adalah sang putri minta Bandung Bondowoso untuk membangun seribu candi untuknya. Meskipun syarat-syarat itu teramat berat dan mustahil untuk dipenuhi.bersambung
Telaga Warna Dieng Wonosobo
Telaga Warna berada di dataran tinggi Dieng, Dieng adalah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kawasan Puncak Dieng ini memiliki banyak panorama alam yang menakjubkan, di antaranya Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Di sekitar telaga ini terdapat beberapa gua alam yang menyimpan legenda dan suasana mistis.

Menurut masyarakat setempat, ada suatu kisah yang menyebabkan warna danau alias telaga itu berwarna-warni. Konon, dahulu ada cincin milik bangsawan setempat yang bertuah namun terjatuh ke dasar telaga. Sementara dari kajian ilmiah, telaga ini merupakan kawah gunung berapi yang mengandung belerang. Akibatnya, bila air telaga terkena sinar matahari akan dibiaskan menjadi warna-warni yang indah.

Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara terkadang dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.

Kawah Sikidang
Kawah Sikidang adalah salah satu dari sekian kawah yang ada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Letak kawah ini adalah di Desa Dieng Kulon Kabupaten Banjarnegara.


Selesai makan, kami mulai berjalan menuju kawah. Meskipun siang hari, namun suasana tetap dingin seperti biasa. Maklum, di sini kan dataran tinggi, jadi dingin adalah santapan setiap saat. Di kanan kiri jalan adalah ladang kentang milik warga desa. Dalam perjalanan kami melewati pintu masuk Telaga Warna, namun kali ini kami tidak mampir. Belok ke kanan dan berjalan lagi, kami pun melewati area Candi Bima. Candinya masih terawat dengan baik, lingkungan di sekitarnya pun bersih dan asri. Selain area Candi Bima juga ada area Candi Arjuna yang lebih luas dan lebih banyak jumlah candinya. Setelah mengunjungi Candi Bima sebentar, kami pun melanjutkan perjalanan. Melewati pintu masuk Kawah Sikidang yang tidak ada penjaganya alias kami masuk gratis. Siang itu suasana cukup sepi membuat kami leluasa berjalan kaki di tengah-tengah jalan. Kemudian kami juga berfoto di tengah-tengah jalan. Kami kemudian melewati pipa-pipa milik PT Geo Dipa Energi unit Dieng, sebuah perusahaan pembangkit energi listrik tenaga panas bumi.
Dari pintu masuk menuju kawah jaraknya memang cukup jauh dan cukup melelahkan, namun tidak ada pilihan lain sehingga perjalanan harus tetap dilanjutkan. Kemudian tampaklah area kawah dengan asapnya yang menjulang. Tempat pariwisata ini dilengkapi area parkir yang cukup luas. Juga ada kios-kios souvenir. Mendekati area kawah kami disambut oleh bau belerang yang khas. Pusat kawah hanya dipagari bambu seadanya. Di dalamnya, air kawah mendidih dan meletup-letup hebat. Wah, cukup ngeri juga. Kami tidak berani berlama-lama dekat dengan pusat kawah. Apalagi bau belerangnya juga menusuk hidung. Setelah berfoto kami langsung turun dan beranjak pulang. Sudah cukup kami mengagumi kekuasaan Sang Pencipta dengan melihat Kawah Sikidang dari jarak dekat. Dengan penuh perjuangan lagi, kami pun pulang.
Dieng plateau
dieng-plateauBerada pada ketinggian 2093m diatas permukaan laut, maka mudah diterka bahwa dataran tinggi Dieng beriklim sedang dengan suhu udara 15 derajat Celcius pada siang hari dan 10 derajat pada malam hari, karena itu hembusan udara terasa sejuk, segar dan menyenangkan.


Secara geografis kendatipun Kabupaten Banjarnegara memiliki obyek wisata lebih banyak daripada Kabupaten Wonosobo, namun Wonosobolah seperti terkesan selama ini seolah-olah sebagai yang memiliki dataran tinggi Dieng.
Mengapa ? Pertama, karena jarak Wonosobo – Dieng dekat hanya 26 km, daripada jika dari Banjarnegara – Dieng yang berjarak 55 km. kedua, karena kondisi jalan Wonosobo – Dieng yang baik, juga karena sarana-sarana penunjang lainnya untuk memenuhi kebutuhan wisatawan cukup tersedia di Wonosobo, seperti hotel, restoran atau rumah makan, pramu wisata (Guide) dan jasa angkutan wisata.
road-to-diengSebagai layaknya suatu daerah pegunungan, maka alur jalan menuju dataran tinggi Dieng, ada yang datar tetapi lebih banyak yang menanjak, merayapi punggung bukit dan gunung, menurun dan berkelok-kelok. jika anda pernah mengunjungi Puncak maka seperti itulah alur jalan Wonosobo – Dieng Plateau.


Sepanjang alur jalan menuju Dieng anda benar-benar dapat menikmati perjalanan wisata anda, mengapa ? karena di kiri dan kanan jalan sepanjang perjalanan anda menuju Dieng yang “adi” dan “aeng” itu sejauh mata memandang dan menangkap yang jauh di sana, terhampar indah panorama alam yang dilatari pemandangan gunung gemunung yang terselimuti mega-mega putih atau kabut senja yang turun menyentuh bumi. Dan bila anda merenung sejenak “mengembara ke alam sana”, maka terusiklah hati nurani anda dan meluncurlah lepas selarik kata-kata pujian terhadapnya “Oh.. betapa agung dan mulia Dia yang menciptakan semua ini”.
Dan bukan itu saja. Anda pun akan menikmati bagaimana tanaman-tanaman kentang yang di tata rapih membujur membentuk konfigurasi horisontal di punggung bukit dan gunung, menciptakan suatu landskap nan elok dipandang mata. Juga, anda akan merasakan nikmatnya hembusan angin pegunungan yang sejuk, segar, menyenangkan hati. Ah ! sungguh merupakan suatu pengalaman seumur hidup tak terlupakan.
Situs Percandian Dieng
Dalam konsep agama Hindu terdapat suatu anggapan dan keyakinan, bahwa tempat yang tinggi dan gunung merupakan tempat bersemayam para dewa dan karena itu dianggap juga sebagai tempat yang suci.


Jadi bila kita sekarang menyaksikan candi-candi Dieng dibangun di dataran tinggi, di gunung, maka pembangunan candi-candi tersebut di sana, memang telah memenuhi unsur keyakinan yang terkandung dalam konsep itu. Bahwa candi adalah tempat suci bagi persemayaman para dewa.
Bangunan candi adalah replika (tiruan) dari gunung Mahameru di India yang dianggap suci oleh umat Hindu sebagai tempat tinggal para dewa.
di samping itu bangunan candi merupakan juga replika dari alam semesta berdasarkan konsep kosmologi yang dianut umat Hindu,.
Kaki candi melambangkan tingkatan alam bawah, alam dimana manusia bertempat tinggal dan disebut Bhurioka.
Tubuh Candi melambangkan tingkat Bhuwarloka, yakni dunia tengah, tempat tinggal roh-roh orang mati.
Dan atap candi melambangkan “dunia atas” yang disebut Swarloka, tempat tinggal para dewa. (ibid)
Dari bukti arkeologis yang ditemukan dan yang ada di Dieng, seperti bangunan candi (sebagai bangunan sakral), bangunan profan (yaitu bangunan pemukiman) dan temuan-temuan lepas lainnya, misalnya arca, kereweng, keramik, prasasti dan benda-benda lain yang berhubungan dengan keagamaan dapat dipakai sebagai petunjuk (indikator), bahwa Dieng merupakan tipe situs yang berfungsi sebagai tempat upacara juga sebagai tempat pemukiman.
Nama-nama candi Dieng yang amat dikenal dengan nama-nama Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembodro, Gatotkaca, Bima, dan Dwarawati itu, sesungguhnya pada awalnya bersifat anonim atau tidak bernama. penamaan barulah diberikan kemudian (entah oleh siapa) menurut nama-nama para tokoh dalam epos Mahabarata dan cerita Wayang.